#Eps2 Night Thinker : Kenapa kita mudah kecewa?
Kenapa semua
ekspektasi kita tidak berjalan dengan lancar?
Mengapa
orang yang kita suka malah menjauh?
Mengapa
hal-hal yang terjadi di sekitar kita tidak sesuai apa yang kita mau?
Semua
pertanyaan yang di awali dengan kata “kenapa” pasti memiliki alasan tersendiri.
Mengapa kita
hadir di bumi ini juga pasti mempunyai suatu alasan.
Sebuah buku
yang berjudul “filosofi Teras” mengatakan bahwa Bahagia yang sederhana adalah
bahagia yang terbebaskan dari rasa emosi atau perasaan yang terganggu.
Kadang, kita
berpikir kenapa orang-orang bisa melakukan hal jahat kepada kita atau
mengecewakan kita, sedangkan kita selalu berbuat baik terhadap mereka.
Di bumi ini,
ada satu hal penting yang harus kita ketahui sebagai manusia, yaitu kita tidak
bisa mengendalikan hal-hal diluar kendali kita.
Untuk hidup yang lebih tangguh dan tidak mudah
sensi atau bahkan baperan, kendalikan presepsi dan pikiranmu sendiri. Karena
itu ada di dalam kendalimu.
Inilah
disebut prinsip yang bernama “Dikotomi Kendali.”
Prinsip ini
berlaku dalam segala aspek umur, mau tua atau muda, bahkan jika balita sudah
mengerti dan memahami prinsip ini mungkin ia akan menerapkan nya dalam
kehidupan mereka. Namun yang menjadi hal yang perlu kita sadari adalah, kita
sudah tergolong dewasa untuk mengerti hal-hal yang terlihat “biasa” namun
berdampak besar bagi kehidupan. Kehidupan kita sendiri maupun orang lain.
Loh, Apa
hubungannya?
Sebut aja,
kita dengan mudah secara yakin dan mampu dalam mengendalikan diri kita sebagai
manusia, seperti kita dengan mudah menjadi baik ke orang lain, mudah memberi,
mudah dalam mengontrol kata-kata positif agar tidak menyakiti orang lain.
Namun,
mengapa ketika kita bisa mengontrol itu semua, malah orang lain yang tidak bisa
melakukan hal yang sama?
Karena hal
itu adalah sesuatu yang diluar kendali kita. Omongan yang dia ucapkan, isi
pikiran, isi perasaan dia, itu semua berada jauh di dalam kendali kita.
Lalu,
mengapa kita mudah “insecure” atas apa yang orang lain ucapkan?
Kenapa ya
kita mudah tersinggung dan sakit hati?
Apakah itu
berarti kita tidak bisa mengendalikan pikiran dan perasaan kita?
Apakah itu
berarti kita tidak bisa menerima apa yang ada dalam diri kita?
Apakah itu
berarti kita tidak tau potensi apa yang sebenarnya ada dalam hidup kita?
Lagi,lagi
semua pertanyaan berbalik lagi ke kita sendiri.
Karena pada
hal nya, kita akan tetap saja tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain
lakukan terhadap kita. Kecuali sebaik-baiknya adalah presepsi kita terhadap
diri kita sendiri.
Misal contoh
lainnya, kamu menyukai seseorang. Hal yang bisa kamu lakukan adalah seperti
memberinya perhatian, memberi coklat dan bunga atau hal-hal menyenannkan
lainnya.
Namun apakah
itu dapat dipastikan bahwa ia akan melakukan hal yang sama terhadap kamu?
Enggak.
Itu semua
jauh dari kendali kamu. Perasaan yang ada padanya, ya hanya ia seorang yang
dapat mengendalikannya. Isi pikirannya terhadap kamu, adalah kendali miliknya.
Jika kamu
tidak bisa menerima dan memahami itu, kecewa sering menjadi teman.
Jadi,
kehidupan kita tergantung bagaimana
presepsi kita. Kamu tidak bisa memaksakan kehendak orang lain, opini orang
lain, atau perasaan orang lain itu menjadi “sama” seperti apa yang kamu
harapkan.
Begitu pula
apa yang kamu pikirkan tentang dirimu, kamulah pemegang kendalinya.
Presepsi terhadap
diri kita berada di bawah kendali kita sendiri.
Kita adalah
milik kita sendiri.
Pernah suatu
ketika mendengar Podcast Rachel Vennya sebagai narasumber, yang kalau ga salah potongan
isinya “Bahkan orang terdekat kita sekalipun dapat mengecewakan kita. Sebut
saja Teman atau Keluarga, sekalipun diri kita sendiri. Namun hal yang tidak
pernah mengecewakan adalah meminta dan berharap kepada Yang di Atas “.
Sebagai kesimpulan lain, Kita tidak bisa
berharap sepenuhnya kepada Manusia. Berharap pada Yang Maha Kuasa adalah
kendali kita yang paling sebaik-baiknya untuk menghindari kekecewaan.
Karena hal
itu, ada dalam kendali kita.
__
Selamat
berfokus pada diri masing-masing!

Well writen!
BalasHapusu did it well, thanks ka!
BalasHapus